Makna Lirik Lagu "Sajadah Panjang" Bimbo

"Ada sajadah panjang terbentang, Hamba tunduk dan sujud, Di atas sajadah yang panjang ini..". Masih ingat dengan syair lagu diatas? Ya, itulah petikan lirik lagu "Sajadah Panjang" yang dipopulerkan Bimbo di era 60an. Apa makna dari lagu tersebut?

Potret Band Comeback Dengan Formasi Baru

Potret, grup musik yang sempat populer di akhir era 90an kini hadir kembali. Setelah beberapa tahun vakum, kini grup band yang digawangi Melly Goeslaw, Anto Hoed dan Aksan Sjuman, muncul dengan tambahan 2 personil anyar. Siapa sajakah mereka?.

Agnes Monica Daur Ulang Single "Rindu"

Mendaur-ulang lagu lama dan dijadikan sebuah single dilakukan oleh seorang Agnes Monica lewat single "Rindu" di tahun 2011. Lagu tersebut diciptakan oleh musisi kondang Erros Djarot dan pernah dibawakan oleh Fryda Lucyana tahun 1994 silam. Sanggupkah Agnes lepas dari bayang-bayang penyanyi aslinya?

Kisah Cinta Ebit G. Dalam Quadrologi Camellia

Quadrologi Lagu Camellia milik musisi Ebiet G. Ade masih menyisakan misteri. Lagu yang berjudul 'Camellia I' hingga 'Camellia IV (Requiem)' saling berhubungan satu sama lain. Apa yang sebenarnya hendak diceritakan Ebiet dalam rangakain lagu-lagu tersebut?

Tommy J. Pisa, Penyanyi Pop Mellow Era 80an

Tommy J. Pisa ialah penyanyi pop yang berasal dari Palembang, yang populer di era 80an hingga dekade awal 90an. Penyanyi ini dikenang karena lagu-lagunya yang sentimentil dan melankolis. Ini dia profil dan biodata Tommy J. Pisa.

Jumat, 10 November 2017

Dygta, Grup Band Yang Mengusung Musik Sweet Pop

Grup Musik Dygta, Personil Band DygtaDygta adalah grup band Indonesia yang didirikan pada tanggal 18 Agustus 1996 di Bandung, Jawa Barat. Kini Dygta digawangi oleh Yon Chasman, Adjie, Dicky, Aang, Sigit. Pada awalnya, Dygta merupakan band sekolahan yang diperkuat Yon (keyboard), Adjie (vokal), Teddy (gitar), Gilang (bass), dan Dimas (drum). Mereka pun berusaha keras agar dapat menembus dapur rekaman. Setelah beberapa kali ditolak, Dygta akhirnya bergabung di label Universal Music Indonesia. Di tahun 1999, mereka merekam lagunya dalam album kolaborasi bersama dengan grup band YB Works. Dalam album ini, Dygta mengandalkan lagu 'KKSK' (Karena Ku Sayang Kamu), sedangkan YB WORKS yang merupakan proyek solo Yudhi Bravianto, mengunggulkan 'Dirimu Satu'. Berkat 'KKSK', nama Dygta melejit di industri musik Indonesia. Dygta pun terpilih untuk mendampingi penampilan Stephen Gately (mantan personel Boyzone) yang saat itu hadir di Indonesia untuk melakukan tur promo.

Meski terbilang cukup sukses di pasaran, namun baru dua tahun kemudian Universal membuatkan album penuh untuk mereka. Album perdana berjudul "Persembahan Jiwa" ini dirilis pada bulan Mei 2002. Lagu 'Tak Mungkin Ku Melepasmu' featuring Andina, dijadikan hits andalan dalam album tersebut. Pada tahun 2004, Dygta kembali meluncurkan sebuah album bertajuk "Pecinta Sejati".

Tahun 2007, Dygta kembali ke kancah musik tanah air setelah tiga tahun vakum. Mereka pun merilis album baru dengan susunan formasi baru. Dimas, Teddy, dan Gilang, mengundurkan diri. Sedangkan Dicky (gitar), Aang (drummer) dan Sigit (bass) masuk menemani Yon Chasman (keyboard) dan Adjie (vokal) merilis album "Bukan Kekasih Setia".

Pada tahun 2012 kemarin, Dygta telah merilis album yang berjudul "6 Sense" yang kali ini di bawah naungan Nagaswara dengan hits Ku Merindukanmu.

Diskografi album:
Berikut cuplikan video klip band Dygta dalam lagu 'Kesepian'. Silahkan lihat streaming video klip di bawah ini.

Indonesia dan Malaysia Pernah Berkolaborasi Dalam Industri Musik

Duet Penyanyi Indonesia-Malaysia, Duet Amy dan Inka Christy
Sebelum sobat membaca tulisan ini saya mengingatkan, kita mesti singkirkan dulu perasaan sentimen atas Malaysia bila ada. Hal ini saya ingatkan karena biasanya kita keburu "panas" bila mendengar negara jiran itu disebut. Mendengar kata Malaysia memang biasanya kita ambigu. Kita merasa dekat karena katanya kita serumpun walau sebagian besar orang Indonesia bukanlah beretnis Melayu. Kita merasa "minder" dengan mereka padahal budaya kita jauh lebih beragam. Kita mungkin minder juga karena mereka telah menjadi negara kaya, tetapi kita sebaiknya tidak berkecil hati karena setidaknya kita lebih demokratis. Saya pernah mengobrol santai dan hangat dengan pengemudi taksi ketika berada di Jakarta. Dia mengeluhkan anak-anaknya yang tergila-gila dengan seriap Upin dan Ipin. Awalnya saya hanya mendengarkan tetapi kemudian mulai bersepakat dengan pendapat-pendapatnya. Hal yang mirip dengan opini saya adalah, terlepas dari Malaysia sebagai pemerintahan yang terkadang bertindak berlebihan pada Indonesia, sesungguhnya bila mau jujur kita dekat dengan budaya mereka. Begitu juga mereka. 

Mengamati Upin dan Ipin, saya jadi teringat dengan masa kecil saya di Brebes, Jawa Tengah. Kehidupan kampung di mata anak-anak yang dinamis. Juga dengan kebersamaan hidup dengan budaya lain. Bila di Upin dan Ipin interaksi yang muncul adalah dengan etnis dari India dan Tionghoa, pada masa kecil saya dulu interaksi tersebut dengan seluruh etnis di Indonesia, juga Tionghoa dan Arab. Intinya, keadaan multikultur sudah galib sejak lama di Indonesia dan Malaysia, dan mungkin juga di seluruh masyarakat lain. Perbedaannya, di Indonesia kini tidak lagi seringkali muncul problematika hidup bersama dengan beragam latar belakang budaya di dalam pesan media. 

Konten media lain dari Malaysia yang juga dekat dengan kita, terutama awal dekade awal 1990-an, adalah musik populernya. Jauh sebelum penyanyi & band-band "metal" dan pop asli Indonesia (Sheila On 7, Dewa, Boomerang, Five Minutes dll) merajai musik di wilayahnya sendiri, penyanyi dan band Malaysia tersebut sudah populer di Indonesia. Ini adalah kenyataan yang tidak dapat kita abaikan. Saya ingat persis bagaimana dulu lagu "Isabella" yang dinyanyikan oleh Search begitu populer di awal 90an, ada juga lagu-lagu duet Amy Search & Inka Christie yang berjudul "Jangan Pisahkan" & "Cinta Kita". Hampir semua orang menyanyikannya dan lagu tersebut terdengar di mana-mana, terutama di radio gelombang AM & FM. Di tahun 1996-1998 ketika saya SD kelas 4 ada beberapa lagu yang populer antara lain Fenomena dengan lagunya "Tiada Yang Lain", Nash dengan "Kulihat Syurga di Wajahmu", Ekamatra dengan hits andalannya "Hanya Satu Persinggahan" dan lain sebagainya.

"Bulan madu diawan biru
Tiada yang mengganggu
Bulan madu diatas pelangi
..........................................
..........................................
..........................................
Andai dipisah api dan bara
Tak akan goyah gelora cinta..."

Juga dengan dua lagu lain, yaitu "Gerimis Mengundang" oleh Slam dan "Suci dalam Debu" yang dinyanyikan oleh Iklim, yang begitu populer di tahun-tahun itu, awal 1990-an. Terus terang saya ingat ketiga lagu itu memang menciptakan atmosfer tersendiri, mengingatkan saya pada hidup masa kecil yang multikultur. Atmosfer unik yang diciptakan oleh musik Malaysia sebelum imaji interaksi yang belakangan ini. Imaji interaksi yang konfliktual dan jauh dari wajah bersahabat. Lagu-lagu yang lain, selain tiga lagu paling terkenal di atas, tidak begitu saya kenal. Walau begitu, lagu-lagu itu mudah kita ingat sebagai lagu Malaysia karena judulnya yang "unik". Di penghujung tahun 90an, tepatnya tahun 1999/2000 saya memasuki bangku SMP, saat itupun musik-musik slowrock Indonesia-Malaysia masih sering muncul di TV, misalnya Inka Christie dengan lagu "Teratai", Screen dengan lagu andalannya berjudul "Bila Cinta Di Dusta", Darmansyah dengan cengkok melayu Deli yang kental berjudul "Hanya Satu", UKS dengan "Ikhlasmu Berbagi Kasih", Nafa Urbach dengan "Hati Yang Kecewa", Sultan "Terpaksa Aku Lakukan", Slam dengan lagunya "Rindiani", Exist dengan "Dirantai Digelangi Rindu", Sonia dengan lagu "Kau Sebut Namaku". dan masih banyak yang lainnya.

Lagu-lagu Malaysia ini ternyata juga masih dikenali oleh rekan-rekan saya yang jauh lebih muda di kantor. Sepertinya mereka juga suka, karena selain kenal, mereka pun sedikit banyak hafal lirik lagunya. Artinya, sekali pun mungkin tidak suka, lagu ini paling tidak pernah menerpa mereka. Terkadang permasalahan dalam mengakses media dan mengomentarinya memang melampaui suka dan tidak suka. Sesuatu yang tidak muncul ketika kita melihat pemberitaan mengenai "tari Pendet", konflik Ambalat, dan Manohara. Sesuatu itu bernama kedekatan yang sejak lama ada tetapi tidak kita sadari sepenuhnya. Sesuatu yang sudah dekat dari "sononya" secara kultural.

Profil & Biodata Penyanyi Anie Carera

Anie Carera lahir dengan nama asli Tri Nuryani di Madiun, Jawa Timur, Indonesia pada tanggal 1 Juni 1969. Ia merupakan penyanyi pop & slow rock Indonesia yang terkenal pada dekade 90an hingga awal tahun 2000an. Sejak SD Anie Carera telah belajar vokal, dan pada tahun 1982 ia meraih juara I Festival Musik Anak Tingkat Kabupaten Madiun, kemudian berlanjut menjadi juara II Festival musik anak Tingkat Jawa Timur & Nasional. Album perdana Anie Carera "Janji Itu Manis" yang dirilis pada tahun 1988 menuai sukses yang lumaya. Dia menyatakan bahwa apa yang diperolehnya adalah suatu keajaiban. Anie Carera dikenal dengan suara vokalnya yang lembut dan lagu-lagu cinta yang melankolis maupun yang easy listening.

Perjalanan Karir
Saat pertama kali Anie Carera muncul di TVRI Surabaya, musisi Gombloh berkata bahwa Anie adalah seorang penyanyi berbakat, dan juga cantik. Dan akhirnya mereka kerjasama dalam proyek album perdana Anie bertajuk "Janji Itu Manis" dan meraih sukses dalam peluncurannya di tahun 1988. Di tahun yang sama Anie Carera membintangi film layar lebar pertamanya dengan judul "Kamus Cinta Sang Primadona", sekaligus menyanyikan salah satu soundtracknya yaitu, 'Satukan Cinta Kami'.

Album kedua Anie "Walau Seribu Janji" yang diciptakan oleh Yadi Sukma, tak begitu sukses. Setelah itu Anie memutuskan untuk vakum dari dunia musik dan ingin berkonsentrasi dengan kuliah serta pekerjaanya di BRI Surabaya. Di sela-sela kesibukannya sebagai karyawan BRI, Anie Carera kembali meluncurkan album lagi dengan tajuk "Terperangkap Dalam Duka". Anehnya album ini lebih terkenal di Malaysia daripada di negerinya sendiri. 

Pada tahun 1994, Anie merampungkan proyek albumnya bersama Deddy Dores dalam album "Cintaku Takkan Berubah" dibawah naungan label Metrotama Records. Dan album inilah yang kembali melambungkan nama Anie Carera di dunia musik sejajar dengan Nike ardilla, Poppy Mercury, Lady Avisha maupun Inka Christie serta lady rockers lainnya. Album sukse Anie yang lain adalah album "Aku Benci" ciptaan Wahyu WHL yang dirilis tahun 1997 dan Anie pun beralih label dari Metrotama ke Blackboard. Album ini pun juga dirilis di pasar musik Malaysia dan meraih sukses. Diikuti hits single 'Cintaku Terbang Di Langit Biru'. Awal dekade 2000an merupakan akhir kejayaan bagi Anie Carera dan ia pun sudah jarang muncul di radio-radio maupun di TV nasional.

Diskografi album: Album Kompilasi:
  • 20 Lagu Terbaik Anie Carera (1997)
  • Best Of The Best Anie Carera (1999)
  • Best Hits
  • The Best of Anie Carera (2007)
Single & Soundtrack:

Rabu, 08 November 2017

Top 5 Penyanyi Slow Rock Indonesia Era '90an

Era 90an mungkin dikenal sebagai zamannya musik rock & slow rock berjaya di belantika musik Indonesia. Banyak bermunculan rocker ataupun lady rocker pendatang baru kala itu, sebut saja nama-nama seperti Ria Sari, Lia Natalia, Nafa Urbach dan masih banyak lagi. Namun tidak semuanya mereka adalah rocker sejati, banyak juga yang terkesan dipaksakan 'nge-rock' oleh managemen mereka. Namun ada beberapa nama yang patut dinobatkan sebagai lady rocker sejati Indonesia kala itu. Nah pada ulasan kali ini saya akan membahas tentang para lady rocker tulen yang populer di era 90an, siapa sajakah mereka? Yuk kita simak aja ulasannya.

1. Nicky Astria
Lady Rocker Nicky AstriaMencari rocker cewek yang berkelas memang tidaklah mudah, itulah yang dirasaskan Log Zhelebour, produser spesialis musik rock yang juga pemilik Logiss Records. Setelah masa keemasan Mel Shandy berakhir, Log lantas menggaet Nicky Astria sebagai andalannya, yang sampai saat ini masih bertahan & eksis dengan album terbarunya "Retrospective" yang diluncurkan tahun 2012 silam. Bisa dibilang bahwa Nicky Astria adalah penyanyi yang konsisten di jalur musik rock. Penyanyi kelahiran Bandung, 18 Oktober 1967, bernama asli Nicky Nastiti Karya Dewi yang kemudian lebih dikenal sebagai Nicky Astria ini ditemukan oleh Jelly Tobing (drummer Superkid) saat tampil di panggung Rally Rock Jakarta - Bandung, di Kartika Candra Theater, yang kemudian mengantar ke dunia rekaman lewat debut album Semua Dari Cinta (1984). Meski dari segi pasar hasilnya kurang memuaskan, tapi setidaknya album ini sudah menjadi tonggak awal perjalanan karir Nicky Astria menuju puncak sukses. Hingga kini Nicky Astria sudah merilis tak kurang dari 18 album dan single, seperti Semua Dari Cinta (1984), Jarum Neraka (1985), Cinta di Kota Tua (1985), Samar Bayangan (2000) dan lain-lain. Serta beberapa single lagu keroyokan, seperti Rock Kamanusiaan (bersama Achmad Albar, Ikang Fawzi, Anggun C Sasmi, Renny Jayoesman, Gito Rollies, Iwan Fals dan Ian Antono), Jangan Beda Kami (bersama Achmad Albar & Ikang), Jangan Ada Luka (duet dengan Achmad Albar) dan yang terakhir dirilis adalah "Rectrospective" (2012)

2. Nike Ardilla
Penyanyi Nike ArdillaKepergian Nike Ardilla yang terbilang masih berusia muda ternyata tak menjadikan namanya pudar di benak insan musik Indonesia. Sebenarnya ini bukan untuk mengingatkan kembali akan kenangan lama, akan tetapi Nike Ardilla, sosok yang satu ini memang menarik untuk dikupas. Dibalik kematian Nike Ardilla ternyata menyisakan banyak sekali kenangan, harapan dan juga keyakinan akan hari depan. Tidak berlebihan apabila penulis mengungkapkan demikian, karena di balik kematiannya yang tragis memang telah menimbulkan suatu fenomena tersendiri. In death she soard………. Ya dalam kematian Nike Ardilla justru makin bersinar. Fansnya juga bertambah banyak. Hal ini tentu memberikan berkah tersendiri baik itu fans tersendiri maupun bagi pihak label yang menaungi Nike Ardilla, karena dengan demikian baik kaset, CD maupun VCD yang dikeluarkan oleh pihak label masih bisa dinikmati dan dibeli minimal oleh para penggemarnya. Era slow rock kini telah berlalu setelah lahirnya berbagai grup band dengan bermacam varian genre di tanah air. Pelan-pelan era slow rock mulai tergantikan dengan eranya grup band yang lebih banyak mengusung musik alternatif di akhir era 90an. Akan tetapi lagu-lagu Nike Ardilla masih mengisi hati para penggemarnya. Lagu-lagunya telah mengisi hati penggemarnya, ia memiliki tempat tersendiri di hati penggemarnya. Ada beberapa penyanyi yang 'mendompleng' kebesaran nama Nike Ardilla, sebut saja seperti Dike Ardilla, Lia Nathalia dan Elisa, namun karir mereka tak berjalan mulus.

3. Inka Christie
Lady Rocker Inka ChristieRinni Chries Hartono yang lebih dikenal sebagai Inka Christie (lahir di Bali, 20 Januari 1973) adalah penyanyi Indonesia. Putri bungsu dari empat bersaudara dari pasangan S.Suhariono dan Krimiati ini dikenal sebagai lady rocker era 90an. Ia tak hanya dikenal di Indonesia tapi juga di negeri jiran Malaysia. Ia mulai populer di setelah mengeluarkan single Cinta Kita bersama Amy Search di tahun 1991 dan album "Gambaran Cinta" di tahun 1992. Memiliki karakter suara slow rock yang kuat sangat kentara sekali di lagu-lagunya. Albumnya yang lain di antaranya NAFAS CINTA (1993), YANG KUNANTI (1995), YANG KEDUA KALI (1996), TIADA CINTA YANG LAIN (1997), NYANYIAN SUARA HATI (1998), TERATAI (1999), PUISI CINTA (2001), SANGGUPKAH (2003) dan JANGAN PISAHKAN (2005). Putri bungsu dari empat bersaudara pasangan S.Suhariono dan Krimiati ini lewat lagu-lagunya itu juga dikenal luas oleh masyarakat Malaysia. Hingga beberapa kali Inka tampil di negeri jiran tersebut. 
Tahun 2007, Inka membentuk grup band beraliran pop. Grup band yang bernama Q-ta ini beranggotakan Inka Christie (vokal), Reza(gitar), Teguh 'Ngguh' (bass), Lala (keyboard), dan Hadi (drum). Album perdana mereka MENCARI CINTA dirilis tahun 2008.

4. Conny Dio
Lady Rocker Conny DioKesuksesan Nike Ardila menggebrak pasar musik Indonesia diikuti kemunculan beberapa penyanyi wanita dengan corak musik serupa. Deddy Dores menjadi pencipta lagu sukses luar biasa karena beberapa penyanyi (khususnya wanita) yang menyanyikan lagu lagunya sukses di pasaran. Salah satunya adalah Conny Dio yang mempunyai nama asli Conny Tritayuni asal Cimahi Jawa Barat. Album "Setitik Air" dirilis tahun 1990 saat usia Conny masih 15 tahun. Single andalan tentu saja lagu Setitik Air sesuai judul albumnya.

Dengan karakter vokal yang kuat sebagai seorang lady rocker, membuat Conny Dio layak dinobatkan sebagai salah satu lady rocker Indonesia. Saya masih ingat di awal tahun 1991/1992 saya sering mendengarkan musik-musik top chart waktu itu di radio. Saya masih terngiang dengan lagu dari Conny Dio berduet dengan Wisnu diantaranya "Doa Seorang Kekasih" dan "Di Batas Kota Ini".

5. Nafa Urbach
Penyanyi Nafa UrbachNafa Urbach memang tergolong wajah baru di industri musik era 90an, namanya baru dikenal publik setelah ia sukses pada debut perdananya melalui album "Bagai Lilin Kecil" yang dirilis tahun 1995 silam. Nafa Urbach merupakan penyanyi slow rock blasteran Indo-Jerman yang berasal dari kota Magelang. Kemunculan Nafa Urbach di jalur musik slow rock sebagai suksesor darilady rocker legendaris Nike Ardilla. Saat kemunculannya pun tepat, yaitu sesaat setelah meninggalnya Nike Ardilla. Dengan dukungan dan arahan yang diberikan oleh Deddy Dores sebagai komposer sekaligus pencipta lagu, karir Nafa pun berjalan mulus. Puncak karir Nafa Urbach diraih pada saat ia merilis album "Hatiku Bagai Di Sangkar Emas" yang diluncurkan pada medio 1998 dan juga pada album "Tiada Dusta Di Hatiku"yang dirilis pada akhir tahun 1999. Namun sayang, perlahan tapi pasti, karir Nafa Urbach mulai meredup, walaupun ia masih meluncurkan album di tahun 2001 yang bertajuk"Jujur Saja". Beberapa tahun selanjutnya karir Nafa mulai tenggelam, banyak orang yang mengkritisi inkonsistensi Nafa Urbach kala ia berpindah agama dari kristen, kemudian memeluk agama islam, dan kembali lagi beralih ke agama semula. Mungkin hal ini pulalah yang memberikan andil merosotnya karir Nafa dalam dunia musik Indonesia.

Kirey, Penyanyi Pop Cantik Bersuara Merdu

Penyanyi Pop Kirey, Nurzairina aka Kirey, Album Rindang Tak BerbuahNurzairina atau lebih populer sebagai KIREY, adalah penyanyi yang berasal dari Lombok, lahir 16 Oktober 1976 adalah penyanyi Indonesia yang sempat populer di penghujung era 90an dengan suara merdunya. Menjadi penyanyi, dalam artian terjun ke industri rekaman memang susah-susah gampang. Ada banyak penyanyi yang sebenarnya punya talenta bagus dan sudah berusaha dengan berbagai cara tapi tidak pernah mendapat kesempatan untuk rekaman, sementara ada yang karena ‘kebetulan’ malah bisa terjun dan cukup sukses. Boleh jadi Kirey adalah contoh yang kedua. Bakat dia punya, sempat memenangkan berbagai lomba di daerah asalnya, NTB, dan sempat juga berkiprah di ajang BAHANA SUARA PELAJAR yang diadakan TPI di awal 90an. 

Secara fisik dia menawan, sehingga menjadi nilai plus bila terjun ke dunia selebritas. Tapi untuk masuk ke industri rekaman, muasalnya ternyata karena dia berteman dengan SANG ALANG, seorang penyanyi yang saat itu baru merilis album. Karena berteman dengan Sang Alang ini, Kirey jadi dekat dengan industri rekaman dan akhirnya menarik perhatian produser. Album TERLALU adalah album pertamanya. Dengan modal suara lembut dan wajah indonesianya yang ayu, Kirey langsung mencuri perhatian. Lagu 'Terlalu' berhasil menjadi hits dan mengangkat nama Kirey. Ironisnya, Sang Alang yang menjadi ‘perantara’ perkenalannya dengan industri rekaman justru karirnya mandek lantaran albumnya tidak berhasil di pasaran. Album kedua Kirey, "Rindang Tak Berbuah" yang diluncurkan pada 1998 semakin melambungkan namanya di kancah musik nusantara, disusul album ketiga bertajuk "Kehadiranmu" yang dirilis pada tahun 1999.

Diskografi Album:
Berikut cuplikan video klip Kirey dalam lagu hits "Terlalu"

Nugie, Penyanyi Yang Terinspirasi Alam & Lingkungan

Penyanyi Nugie, Agustinus Gusti NugrohoNugie, penyanyi solo yang bernama lengkap Agustinus Gusti Nugroho merupakan salah satu penyanyi Indonesia yang sempat populer di era medio 90an hingga awal tahun 2000an. Nugie lahir di Jakarta pada tanggal 31 Agustus 1971. Nugie merupakan adik kandung dari musisi ternama yaitu Katon Bagaskara & Andre Manika. Awal Mula karir Nugie sempat mendapat tentangan dari sang ayah, A.R. Djuano yang mengharapkan Nugie menyelesaikan pendidikannya. Dengan dukungan sang kakak, Katon Bagaskara, Nugie pun terus menekuni dunia musik, dan menjadi produser bagi rekaman album Nugie.

Nugie merilis album trilogi pertamanya pada tahun 1995, yaitu album "Bumi". Kemudian dilanjutkan dengan album "Air" pada tahun 1996, dan kemudian menyusul album "Udara" (1998). Hits pada album-album Nugie tersebut antara lain, 'Tertipu', 'Putri', 'Teman Baik', Burung Gereja', 'Pelukis Malam', 'Crayon' dan 'Pembuat Teh'. Trilogi seri kedua dirilis pada tahun 2004 dengan album bertajuk "Bahagia". Single pertama dalam album ini adalah lagu 'Bisa Lebih Bahagia'.

Karir Band
Selain menyanyi solo, Nugie menjadi vokalis grup musik ALV, yang terdiri atas Joe (gitar), Alex Kuple (bas), Nito Septian (gitar), dan Gerry Herb (drum). Nugie dan teman-teman bandnya telah lama berkenalan sejak ia masih menjadi penyiar di radio Suara Kejayaan di Jakarta. Pada November 2001, album perdana bertitel "ALV" dirilis dengan mengandalkan lagu 'Yang Tak Kasatmata'. Album ini tidak begitu sukses di pasar, meski tidak gagal total. Akhirnya ALV mencoba lagi dengan merilis album kedua pada 2003 bertajuk "Senyawa Hati". Salah satu single dalam album ini adalah 'Terancam Punah'. Seperti judul single mereka di album kedua, akhirnya grup band ini memutuskan bubar pada pertengahan 2003.Dan Pada tahun 2009 Nugie bergabung pada sebuah band yang bernama the Dance Company bersama Ariyo Wahab, Pongki Barata, Ibrahim 'Baim' Imran dan menelurkan 2 single yaitu 'Papa Rock 'n Roll' dan 'Coba Kau Bayangkan'.

Diskografi Album:
Berikut adalah cuplikan video klip Nugie dalam lagu 'Burung Gereja', silahkan lihat pada tautan video di bawah:

Iwan Fals, Sang Pahlawan Asia

Iwan Fals Asian Hero, Iwan Fals Majalah Time, Virgiawan Listanto
Dunia musik selalu melahirkan legenda-legenda yang mempunya cerita menarik. Masing-masing jenis musik selalu menghasilkan beragam pesona dari persona-persona luar biasa. Sang legenda selalu memiliki pesona yang selalu membuat pecintanya makin jatuh cinta. Dari beragam jenis musik di Indonesia, dari ribuan artis indonesia, dari angkatan lama hingga terbaru, nama Iwan Fals adalah legenda. 

Berangkat dari musik jalanan, Iwan Fals sukses menyuarakan hatinya sendiri lewat lagu. Lagu-lagunya selalu berisikan pesan kemanusiaan, kemarahan atas ketidak adilan dan pemberontakan terhadap kesewenang-wenangan. Iwan fals bagaikan oase atas keringnya telaga kasih sayang dan kepedulian terhadap orang-orang yang dianggap marjinal. Untuk pecinta musik Indonesia, nama iwan fals tak akan pernah lekang.

Iwan fals terlahir dengan nama Virgiawan Listanto. Nama Iwan fals sendiri didapat ketika Iwan masih berjuang menghadapi kerasnya kehidupan jalanan. Roda nasib berjalan serta membawa sang legenda pada dunia hiburan. Saat itu, dunia hiburan tanah air belumlah sekomersial saat ini ketika sang legenda masih bisa leluasa menuangkan idealismenya dalam pita kaset rekaman. Tak pelak lagi, lagu-lagunya adalah cerminan kegelisahannya, serta boleh jadi adalah cerminan kegelisahan banyak orang.

Diantara jajaran penyanyi indonesia, Iwan berhasil menduduki posisi tertinggi di kalangan rakyat kebanyakan. Kalangan ini adalah kalangan yang tak pernah merasakan gemerlapnya panggung-panggung hiburan. Buat mereka, lagu-lagu Iwan adalah pelipur lara sekaligus harapan bahwa masih ada orang peduli di luar sana. Iwan bak tak pernah lelah menyuarakan kegelisahan banyak orang, terutama orang-orang yang tertindah meskipun lirik lagunya cukup berpotensi menggiringnya dalam masalah.

Ditengah iklim politik yang sangat ketat, iwan fals adalah satu dari sedikit penyanyi indonesia yang berani bertutur tentang sakitnya rakyat kecil dihajar oleh ketidak adilan yang tampak terjadi dimana-mana. Ancaman dari antek antek orang-orang yang merasa tersentil dan tersinggung tak membuat sang legenda beringsut. Iwan Fals tetap bergeming hingga kini. Kepeduliaannya pada rakyat kecil telah membuatnya berubah, dari orang tak tahu siapa dia, menjadi pujaan jutaan orang.

Simbol Perlawanan
Sejak sukses dengan album Sarjana Muda-nya, karier Iwan Fals seperti takterbendung. Album-album berikutnya mengalir deras. Opini (1982), Sumbang (1983), Barang Antik (1984), Sugali (1984), KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) (1985), Sore Tugu Pancoran (1985), Aku Sayang Kamu (1986), Ethiopia (1986), Lancar (1987), Wakil Rakyat (1988), 1910 (1988), Antara Aku, Kau dan Bekas Pacarmu (1988), dan Mata Dewa (1989). Ia juga terlibat bersama Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Innisisri dalam album Swami (1989) yang berisikan lagu “Bento” dan “Bongkar” yang sangat fenomenal, kontroversial dan heroik. Banyak orang yang menafsirkan “Bento” adalah singkatan “Benci Soeharto”. Wallahu Alam. Oleh majalah musik Rolling Stone, lagunya yang berjudul “Bongkar” menerima penghargaan 150 lagu terbaik sepanjang masa.

Tak cukup sampai di situ, Iwan Fals mulai dekat orang-orang kritis seperti WS Rendra, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, dan pengusaha minyak Setiawan Djodi. Mereka berkolaborasi dalam proyek Kantata Takwa. Banyak bait-bait puisi WS Rendra yang penuh dengan kritik sosial diadopsi menjadi lagu mereka, seperti: Paman Doblang, Kesaksian, Rajawali, Nocturno, Orang-orang Kalah, Balada Pengangguran, dan Gelisah. Konser musik akbar Kantata Takwa yang diadakan pada 23 Juni 1990 di Stadion Utama Gelora Bung Karno sampai saat ini dianggap sebagai konser musik terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia, dilihat dari jumlah penonton dan teknologi yang dipakai. Kondisi sosial masyarakat saat itu yang penuh dengan ketimpangan dan ketidakadilan membuat Iwan Fals seakan menjadi simbol perlawanan.

Iwan Fals sudah menjadi idola, foto dan gambarnya ada di mana-mana. Tak ada anak muda yang tidak mengenal lagu-lagunya. Lagu-lagunya di putar di mana-mana, di kamar kost, angkot, pusat perbelanjaan, pasar, terminal, dan stasiun kereta. Seakan dengan mendengar dan menyanyikan lagunya rakyat merasa “ada yang membela”. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa konser musiknya banyak yang dipersulit, baik dengan cara halus seperti tidak diberi izin atau dengan cara kasar seperti pemadaman listrik tiba-tiba. Bahkan, dibubarkan secara paksa. Iwan Fals juga sempat ditahan oleh aparat keamanan selama 2 minggu karena menyanyikan lagu “Demokrasi Nasi”, “Pola Sederhana” dan “Mbak Tini” pada saat konser di Pekanbaru medio April 1984. Sejak saat itu, teror dan intimidasi kerap terjadi pada diri dan keluarganya. Tak heran apabila sepak terjang Iwan Fals di dunia musik membawanya pada julukan Asian Heroes oleh majalah Time.