Serba-Serbi dan Fakta Tentang Nike Ardilla

"Sulit ternyata tuk menerima
Namun pasti semuanya kelak berguna
Kurangkai doa mohon padanya
S'moga saja kau bahagia, lelap damai di sisiNya...

Semua di dunia fana semata
Relakanlah semua, pasrahkan
Karena kita hanya manusia
Ada dalam kuasaNya..."

-----------------------------------------------------------
Secuil kutipan lirik lagu 'Bayang Dirimu' dari album "Sandiwara Cinta" milik almarhumah Nike Ardilla di atas, sedikit banyak menggambarkan situasi saat ini. Masih banyak penggemarnya terus menguntai doa demi kelapangan jalan sang idola di akhirat, terutama setiap hari peringatan kematiannya.
Namun para pembaca mungkin belum banyak yang tahu tentang serba-serbi dan fakta-fakta tentang Nike Ardilla. Oleh sebab itu penulis akan membahas hal tersebut pada kesempatan kali ini.

1. Siapa sih Nike Ardilla itu?
Model Rambut Nike Ardilla
Barangkali di antara pembaca setia LirikRaja ini ada yang masih berupa adik-adik manis dan belum mengenal betul siapa Nike Ardilla? Baiklah, kakak akan kenalkan sekilas ya, Dik..

Jadi, Nike Ardilla adalah penyanyi paling hits dan eksis di dunia hiburan pada awal era 90an sampai tahun 1996. Awalnya nama Nike Ardilla melejit saat rilis album pertama 'Seberkas Sinar' pertengahan tahun 1989 dan makin booming setelah album kedua 'Bintang Kehidupan' dirilis awal tahun 1990. Selain penyanyi, cewek kelahiran Bandung, 27 Desember 1975 itu juga sukses sebagai pemain film, pesinetron, bintang iklan, dan model.

Selama masa aktifnya jadi artis Nike rajin wara-wiri di TV, di layar bioskop, tabloid, juga majalah kala itu. Lagu-lagunya terus-terusan diputar di setiap radio. Semua albumnya selalu laris manis tanjung kimpul. Gaya fesyen dan model rambutnya ditiru para gadis remaja dan dewasa generasi 90an. Hatinya menjadi rebutan para pria generasi 90an, dari mulai rakyat jelata, sepupu jauh, fans, selebritis, sampai anak pejabat. Penggemarnya dari mulai bocah, remaja, dewasa, sampai orang tua. Pokoknya selama era tersebut, dominasi seorang Nike Ardilla begitu kuat.

2. Pribadi Sederhana, Humble dan Paras Rupawan
Gaya Berbusana Nike Ardilla SederhanaTerlepas dari segala kontroversi yang (masih) sering dipergunjingkan soal hobinya keluar masuk diskotik (konsekuensi sebagai remaja ng-etop yang cuma punya waktu main pas malam hari), Nike juga terkenal memiliki pribadi yang baik serta murah hati, berjiwa sosial tinggi. Dia nggak cuma suka nolongin teman yang lagi kesusahan, tapi selalu menyisihkan honor-honornya dan berbagi kepada mereka yang lebih membutuhkan. Tahun 1992 Nike mendirikan Sekolah Luar Biasa (SLB) bagi penyandang disabilitas, semua atas prakarsanya sendiri alias tanpa dorongan siapapun.

Tampilannya yang sederhana, tidak pernah bermewah-mewah, gaya pakaian sehari-hari yang cuek, casual, chic tapi tomboy itupun banyak dikagumi. Menurut cerita yang beredar, tak jarang Nike Ardilla datang ke sebuah acara atau melakukan pemotretan tanpa make-up. Hanya natural dengan pakaian yang nyaman dipakainya, tapi masih terlihat cantik. Nike juga tak pernah ragu berbaur dengan para fansnya yang berkunjung ke lokasi ia bekerja. Rajin pula membalas surat penggemar satu per satu.

Faktor-faktor di atas kemudian dibungkus oleh fisiknya yang menarik. Terlahir dengan wajah cantik nan lugu khas mojang Sunda dan perawakan tinggi semampai juga turut menjadi salah satu daya jual Nike Ardilla. Sosoknya menjadi standar cewek idaman kala itu. Kalau zaman sekarang, boleh juga lah disejajarkan dengan ikon cantik semisal Chelsea Islan, Raisa, atau Natasha Wilona.

3. Cukup Mudah Untuk Jatuh Cinta Terhadap Nike
Coba saja dengar lagu-lagunya Nike Ardilla, dari mulai yang hits sampai yang bukan jadi lagu andalan, semua lagunya masih enak didengar kok. Meskipun dijuluki lady rocker, tapi musik Nike nggak mengusung musik yang gombrang-gambreng semacam aliran emo, grunge, heavy rock, apalagi metal. Justru lebih ke slow rock, sweet pop, berlirik melankolis yang cocok banget buat suasana hati galau.

Suara khasnya yang serak-serak basah selalu berhasil meniupkan roh ke dalam setiap lagu yang ia nyanyikan, sehingga membuat jerit hatimu seperti tersuarakan. Tengok deh lagu-lagunya, seperti Seberkas SinarBintang Kehidupan, Tinggallah Aku Sendiri, Izinkan, Suara Hati, Dalam Biru HatikuDuka Pasti Berlalu, Luka, dan masih banyak lagi. Banyak banget malah.

Pada eranya, catatan penjualan album-album Nike selalu menembus lebih dari 2 juta copy.Album terakhirnya, 'Sandiwara Cinta' rilis pada awal Maret 1996 terjual 2 juta copy dan melambung menjadi 5 juta copy pasca kematian penyanyinya. Sampai saat ini nyanyian Nike masih banyak yang mencari, baik dalam bentuk kaset, compact disc, atau DVD. Peminat pun tak hanya dari Indonesia, tetapi juga Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Bahkan tahun 2014 silam tersiar kabar bahwa Nike berhasil menguasai chart iTunes Brunei, mengungguli penyanyi kenamaan masa kini seperti John Legend dan Pharrell Williams.

4. The Power of Nike Ardilla
Bolehlah bilang Nike Ardilla itu Jim Morrison dan Kurt Cobain-nya Indonesia. Kenapa? Karena selain sama-sama besar dari industri musik, fans setianya masih rajin memperingati hari lahir dan kematian sang Idola. Fanatisme tersebut masih menarik perhatian dunia showbiz sehingga kerap dibahas di media elektronik, internet, maupun media cetak.
Nike Ardilla dimuat di Majalah
Setiap acara peringatan kelahiran maupun kematian Nike Ardilla, melibatkan ratusan fans dari beragam daerah di Indonesia. Iring-iringan rombongan mereka menuju pemakaman keluarga Nike di Desa Imbanagara, Ciamis, ataupun kunjungan ke Museum Nike Ardilla di Bandung bisa 2 sampai 4 bus. Hal tersebut juga tercermin pada peringatan 22 tahun kematian sang Bintang Kehidupan yang jatuh pada 19 Maret 2017 kemarin. Penggemar yang tergabung dalam Nike Ardilla Fans Community (NAFC) itu juga suka terlibat dalam acara-acara sosial. 

Kecintaan penggemar terhadap fans berat Marilyn Monroe itu tak pernah berkurang. Bisa dilihat dari fans page facebooknya yang tembus angka lebih dari 2,9 juta likes. Malah bertambah karena banyak dari para fans senior menularkan ke-idola-an mereka atas Nike Ardilla terhadap junior-juniornya. Seperti warisan turun temurun; kalau ibu-bapaknya suka, anaknya jadi suka. Kalau tantenya fans berat, eh keponakannya ikut gandrung juga.

Nike Ardilla In Memoriam, Dalam Kematian Ia Bersinar

Pada tanggal 19 Maret 1995, kurang lebih pukul 06.15 pagi Nike Ardilla tewas dalam sebuah kecelakan tunggal. Mobil Honda Genio berwarna biru metalik plat D 27 AK menabrak pagar beton bak sampah di jalan E. Martadinata. Diperkirakan Nike tewas seketika, tetapi saksi yang berada disekitar lokasi kecelakan menuturkan Nike belum meninggal saat kejadian, baru dalam perjalanan ke rumah sakit Nike meninggal. Nike mengalami luka parah di kepala dan memar-memar di dadanya. Nike yang saat itu bersama sahabatnya, Sofiatun, baru saja kembali dari diskotik Polo. Isu-isu negatif seputar kematiannya berkembang diantaranya menyebutkan bahwa Nike mengendarai mobil dengan keadaan mabuk, tapi kemudian kabar itu dibantah keras oleh pihak keluarga dan saksi kunci kecelakaan itu. Sofiatun mengatakan Nike hanya meminum orange jus. Hasil visum polisi menyebutkan tidak menemukan kadar alkohol dalam tubuh Nike. Ada kesimpangsiuran tentang waktu kematian Nike Ardilla, menurut saksi kejadian itu terjadi pukul 3 pagi, tapi saksi lain mengatakan bahwa kecelakaan itu terjadi pukul 5.45 pagi, laporan resmi mengatakan bahwa waktu kejadian adalah pukul 06.15 pagi. Nike Ardilla dimakamkan pada sore itu juga, diantar oleh ribuan penggemarnya beserta para artis ibukota. Kematiannya menghebohkan dunia hiburan Indonesia, ditangisi para fans yang sampai beberapa hari setelah kematiannya masih setia berada di kediaman Nike Ardilla.

Tak lama setelah kematianya nama Nike Ardilla justru menjulang. Publik masih terus membicarakan Nike Ardilla. Majalah Asia Week menafsirkan Nike dalam sebuah kalimat satir “In Dead She Soared” atau “Dalam Kematian Dia Bersinar”. Setiap tahunnya ribuan penggemar yang tergabung dalam Nike Ardilla Fans Club (NAFC) melakukan ritual khusus pada tanggal 19 Maret dan 27 Desember yaitu berziarah ke makam dan mengadakan acara mengenang Nike seperti memutarkan film-film Nike dan menyanyikan lagu-lagu Nike di Bandung, tempat kelahiran dan tempat berpulangnya Nike. Sebuah museum juga didirikan di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung. Semua barang-barang Nike tersimpan disana, seperti pakaian yang dikenakannya saat kejadian dan replika kamar Nike Ardilla. Selain itu, hampir semua album rekaman lagu-lagu Nike berhasil memperoleh penghargaan, terutama dari segi penjualan. Dalam rentang waktu yang relatif pendek, dia berhasil mengembangkan demikian jauh popularitas dan fanatisme penggemarnya bahkan melampaui apa yang diperoleh penyanyi terkenal yang sudah berkiprah puluhan tahun di dunianya.

In Dead She Soared (Dalam Kematian Ia Bersinar)
Penjabaran di atas sedikitnya sudah memberi gambaran soal the power of Nike Ardila: in dead she soared. Namun ada faktor X lain yang membuat namanya urung padam, yaitu kematiannya sendiri. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, maut menjemput Nike dalam sebuah kecelakaan tunggal di Jalan Riau, Bandung. Peristiwa nahas tersebut menjadi berita paling menggegerkan sepanjang tahun 1995. Media elektronik maupun cetak terus-menerus membahasnya selama tiga bulan berturut-turut.

Waktu usianya masih muda (19 tahun), saat berada di puncak popularitasnya, saat masyarakat tengah cinta-cintanya, belum lagi semua niatan baiknya terwujud, sang Bintang harus berpulang. Penggemarnya; tua-muda semua berderai air mata, diliputi rasa tak percaya. TKP kecelakaannya dikerumuni orang, bertaburan bunga. Ribuan pelayat mengantarkan jasadnya ke tempat peristirahatan terakhir. 

Ada rasa belum puas atas kehadiran sosok Nike, khususnya di tengah para penggemar setia dan umumnya di tengah masyarakat Indonesia. Tetapi apa boleh buat, Sang Pencipta sudah memutus takdirnya, siapapun tak bisa menggugat. Karya-karya dan seluruh kebaikan Nike menjadi warisan yang tak ternilai bagi fans dan kita semua. Itulah sebab ia masih dielu-elukan hingga 21 tahun kematiannya. Tak menutup kemungkinan hingga 22 tahun, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

"It's better to burn out, than to fade away." (Kurt Cobain mengutip Neil Young)
"We all die. The goal isn't to live forever, the goal is to create something that will." (Chuck Palahniuk)

Blokir Situs Download, Apakah Ini Solusi Perangi Pembajakan Musik Ilegal?

Blokir Akses Web Download Ilegal, Pembajakan Lagu di Internet
Desakan agar pemerintah memblokir puluhan website yang dianggap memfasilitasi download file lagu (khususnya file mp3) secara ilegal terus gencar disuarakan oleh komunitas industri musik tanah air. Namun, permasalahannya tidak sesederhana itu, sebab masih banyak kendala yang akan dihadapinya. Apakah dengan memblokir puluhan situs tersebut adalah solusi terbaik untuk semua pihak? Saya rasa hal ini merupakan suatu kebijakan yang hanya mengakomodasi pihak industri musik saja, lalu bagaimana dengan masyarakat Indonesia yang masih berat untuk membeli konten musik original? Lalu bagaimana juga dengan para pemilik website dan blog yang menggantungkan hidup dari situs mereka jika kebijakan ini dilakukan dalam skala yang lebih luas lagi?

Kembali dirundung duka akibat rencana pemblokiran atas apa yang mereka anggap sebagai "situs penyedia download lagu ilegal" dan tindakan tersebut didukung oleh anggota DPR, khususnya yang memiliki background musisi. Ini dapat dimaklumi karena memang yang dirugikan adalah kalangan yang meminta Kementrian Komunikasi & Informatika (Kominfo) untuk melakukan itu, yakni para stakeholder yang menggalang gerakan yang mereka sebut "Heal Our Music". Stakeholder tersebut adalah : pencipta lagu, penyanyi, pembuat CD, produser, distributor, penjual kaset/CD dan lain-lain. 

Wajar jika langkah tersebut menjadi harapan para profesional, namun sebenarnya imbas keuntungan yang diperoleh para stakeholder atas ditutupnya situs-situs download musik, tidak akan berdampak signifikan, bahkan mungkin tidak berpengaruh sama sekali. Mengapa demikian? By the way, apa betul hanya mereka itu saja yang menjadistakeholder? Jawabannya tidak! Stakeholder yang paling merasa dirugikan dengan adanya situs download ilegal adalah internet service provider (ISP) yaitu Telkom. Tapi dalam berbagai berita, sama sekali ISP tidak pernah disinggung padahal bagi yang tahu ada situs Telkom yang juga memberikan unduh lagu gratisan. Jadi, terkesan jelas bahwa hukum di negeri ini hanya berpihak pada yang kuat saja. Dengan kata lain, para praktisi musik merasa seolah mereka terselamatkan dengan adanya kebijakan tersebut. Padahal tidak demikian kenyataannya, yang terselamatkan atas tindakan Kominfo adalah perusahaan download lain seperti Telkom dan yang lainnya.

Saya sebagai praktisi telematika yang juga sama-sama mengandalkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dalam melindungi karya saya, tentunya di satu sisi saya merasa prihatin atas maraknya situs yang begitu mudah memberikan downloadkonten gratis, namun di sisi lain dengan melakukan penutupan ataupun pemblokiran website, bukanlah suatu solusi yang adil bagi negara yang sedang berkembang ini. Bahkan bila untuk memutuskan tindakan tersebut, pihak Kominfo telah berpikir keras dan melalui hasil rapat internal pejabat berwenang. Namun, jika hasilnya hanya sekadar menutup situs, itu tidak ada membunuh lalat dengan bom. Ada yang melanggar lalu ditutup semua situsnya. Sama saja jika di dalam suatu mall ada konter yang menjual CD/DVD bajakan, lalu satu mall ditutup semua. 

Saya tidak mengerti dengan cara berfikir departemen Kominfo yang seperti ini bila mereka menjadi pejabat kepolisian/penegak hukum, maka saya khawatir Kominfo bisa menjadi seperti "koboi jalanan" yang lalu membabi buta menembak ke sana-kemari atas nama hukum. Benarkah atas nama kebenaran, atau atas nama pembenaran? Alasannya sebagai berikut:

Belum tentu semua musisi / pencipta lagu tidak ingin karnyanya disebar gratis bukan? Ada beberapa musisi, contohnya grup band Naif, yang kiat bisnisnya sangat menarik karena mereka membiarkan lagunya diunduh gratis dan mereka mencari revenue dari show/konser. Begitupun dengan Band-band ternama lainnya, sebut saja Cupumanik yang kini kembali ke jalur indie. Kita ketahui bahwa musik indie ialah bagian dari karya seni anak bangsa namun karena mereka kalah bersaing secara bisnis maka karya mereka tak akan dipasarkan musik berlabel. Padahal lagu-lagu dari musik indie ini juga banya peminatnya, lalu kini bagaimana karya musik indie sampai ke telinga pendengarnya.

Kita tahu dengan makin tingginya mobilitas dan semakin berkembangnya piranti mp3 player, maka akan lebih banyak orang yang mendengan lagu melalui mp3 player portabel daripada lewat CD player. Sebab perangkat portabel ini sangan praktis dan efisien, bisa menyimpan ribuan lagu mp3. Peminat mp3 tersebut kini lebih sering mendengarkannya melalui ponsel, dan kita tahu juga untuk mengisikan mp3 ke ponsel bukan hanya mendownload lewat wap/web, namun bisa dibeli di konter-konter musik ilegal dengan harga miring maupun bisa menyalinnya dari orang ke orang. Walau puluhan situs download musik tersebut telah ditutup, faktanya masih banyak celah bagi pelaku penyebar konten untuk menaruh file lagu di forum-forum maupun layanan peer to peer (termasuk Torrent & Direct Connect) dan hal ini takkan dapat dibendung. Lebih parah lagi jika file yang ditaruh di server, dengan nama yang disamarkan, maka akan sulit bagi Kominfo untuk melacaknya. Apa yang dilakukan oleh Kominfo seolah menjadi kontraproduktif terhadap pelaku bisnis start up, yang mana menyediakan situs download ini merupakan salah satu langkah awal untuk memlulai bisnis ini.

Kendala & Solusi
Saat ini alat bayar transaksi online masih sangat asing bagi publik , belum lagi maraknya hacking akan membuat trauma para peminat transaksi online. Padahal kalau saja bank bisa membuat suatu fungsi saldo pembayaran online (semacam saldo bayangan) sehingga publik bisa mengalokasikan (transfer) sebagian dana ke saldo online tersebut, maka bila suatu saat dananya diretas orang setidaknya yang hilang maksimal sebatas saldo bayangan tersebut, tidak seluruh rekening amblas.

Solusi yang memungkinkan
Masalahnya Kominfo belum sangat serius menindak para pelaku pembajak konten dengan memberi efek jera sehingga pembajak masih berleha-leha merasa tidak akan tersentuh hukum.
Situs pengunduh tersebut jangan ditutup melainkan lebih ditertibkan agar hanya menayangkan konten yang tidak dilarang penciptanya. Apabila pemerintah bisa memberikan solusi alat bayar digital yang lebih mudah, lebih aman dan disosialisasikan dengan baik maka publik tidak hanya menjadi lebih mudah berbelanja tetapi bangsa kita mempunyai cara bayar alternatif yang lebih simple dan aman. Ketahuillah apabila publik Indonesia dimudahkan dalam bertransaksi maka pasti transaksi digital akan marak dan semua pihak diuntungkan.

Setelah semua itu lalu apa yang akan terjadi?
Berhubung fitur penyalinan konten antar perangkat seperti melalui USB, Bluetooth, inframerah dll. akan tetap menjadi suatu fitur yang tidak terelakan, maka perilaku saling copy antar pengguna gadget akan tetap terjadi, bahkan dimasa mendatang cara penyalinannyapun semakin mudah, cukup dengan menggeser konten pada touch screen atau bahkan menempelkan antar 2 perangkat yg akan digunakan untuk kirim-terima konten.
Situs download di berbagai negara lain semakin merajarela karena mereka akan mempunyai banyak konten lagu Indonesia.

Telkom akan menjadi raja penyedia layanan unduh lagu dan kata ‘persaingan sehat’ pupus sudah. Kominfo setelah memblokir situs porno, kini situs lagu, kelak juga (bukan tidak mungkin) akan membungkam situs yang kritis kepada pemerintah. Eh… apakah ini langkah untuk kembali ke era Orde Baru? Bedanya yang sekarang diterapkan Kominfo lebih gaya, yaitu secara digital.

Transformasi KLa Project Dalam Era Digital

Grup Musik KLa Project, Katon Lilo Adi, Band KLa Project
KLa Project akan merayakan usia ke-29 tahun pada Oktober mendatang. Band yang pada era 1990-an populer lewat lagu "Tentang Kita" dan "Yogyakarta" itu kini berada di tengah zaman digital ketika mengunduh lagu secara ilegal merajalela. Usia 25 tahun KLa dihitung sejak single mereka "Tentang Kita" termuat dalam album kompilasi bersama sejumlah artis lain bertajuk 10 Bintang Nusantara pada Agustus 1988. Menyusul kemudian, 23 Oktober, klip video KLa tayang pertama dalam acara Selecta Pop di TVRI dengan sutradara DJ Nawi. Di antara 10 artis yang termuat dalam album terbitan Team Records itu memang hanya KLa yang melesat dan bertahan sampai 25 tahun. Artis lain dalam album itu antara lain Splash Band, Katara Singers, Dimensi Band, dan Sirkus Barock.

Industri rekaman pada era akhir 1980-an memang sedang meriah. Saat itu ada Vina Panduwinata, Fariz RM, Karimata, dan Obie Messakh. KLa yang saat itu terdiri dari Katon, Lilo, Adi, dan Ari Burhani termasuk berjaya dengan kemasan musik yang disebut tekno-pop.

Sebagai band elektronik, KLa pernah membuat konser akustik di Gedung Kesenian Jakarta pada 1996. Konser itu direkam (live recording) dan diterbitkan sebagai album Klakustik. Album yang terdiri atas dua kaset itu memuat lagu antara lain "Terpuruk Ku di Sini", "Jumpa Kamu", "Gerimis", "Tentang Kita", "Romansa", "Waktu Tersisa", "Semoga", "Pasir Putih", "Belahan Jiwa", "Tak Bisa ke Lain Hati", dan "Yogyakarta". Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari monumen lagu pop di negeri ini. "Itu salah satu kebanggaan kami," kata Lilo tentang konser akustik itu.

Pada bulan November mendatang, KLa akan membuat konser akustik serupa dan direkam pula. Apakah lagu-lagu KLa akan kembali dirayakan orang di tengah belantika musik yang telah berubah? Orang dengan mudah mengunduh konten lagu dari internet secara legal, tetapi juga secara ilegal. Yang ilegal yang paling banyak terjadi, lebih dari 90 persen.

"Industri rekaman sedang kolaps," kata Katon yang bersama Lilo dan Adi bertandang ke redaksi Kompas. "Saat ini siasat apa pun tidak ampuh," kata Adi.

Dalam kondisi seperti itu, KLa menyayangkan kurang adanya perlindungan hukum dan regulasi yang memungkinkan seniman dapat terus berkarya dan karyanya dihargai secara ekonomi oleh masyarakat. Bukan diunduh (download) secara sembarangan di dunia maya. Kondisi seperti itu menjadikan seniman enggan membuat album.

"Buat apa, wong album baru juga tidak dihargai. Capek ngitung energi dan waktu yang dikeluarkan. Kerja bakti sekali. Respons sudah beda banget. (Album) laku sekali, tetapi itu yang gratis," kata Katon.

"Kami masih semangat berkarya. Namun, yang saya prihatinkan industri musiknya, industri rekaman yang tidak ada kejelasan ke depannya," kata Adi.

Budaya digital
Di Indonesia, teknologi digital belum memudahkan orang mengakses informasi apa pun itu, termasuk mendapatkan lagu yang justru merugikan artis. Kondisi ini jauh berbeda dengan artis di AS dan Eropa. Data dari iTunes memang menggiurkan. Pada 27 Februari 2013, di AS dan Eropa sudah terjadi pengunduhan 10 miliar lagu (single) di toko virtual iTunes yang diluncurkan 10 tahun lalu. Pada tahun 2012, setiap menit terjadi pengunduhan 15.000 lagu yang menghasilkan 1,7 miliar dollar AS. Katalog lagu iTunes sejauh ini ada 26 juta lagu.

"Ini yang bisa menyelamatkan industri. Mereka mempunyai kesadaran untuk membeli yang resmi. Cara ini akan melindungi karya, masyarakat, dan budaya," kata Katon.

KLa bukannya tidak berkarya. Tahun 2010 mereka merilis album "Exellentia". Tahun 2011 mereka memproduksi A Tribute to KLa di mana sejumlah artis, seperti Ungu, Kerispatih, dan RAN membawakan lagu kondang KLa. Album ini dijual lewat Indomaret dan terjual sekitar 80.000. "Tapi siapa yang datang ke toko CD? Siapa beli CD?" kata Adi.

Ia mengingatkan bahwa toko virtual pada era digital ini seperti menggantikan toko fisik. Brand besar seperti iTunes sudah masuk ke Indonesia. Akan tetapi, kultur digital di Indonesia belum disiapkan. "Padahal dunia sudah jelas arahnya ke sana, ke budaya digital, transaksi digital," kata Adi.

KLa menyebut negeri seperti Swedia, Perancis, dan Korea Selatan telah menerapkan regulasi yang mengatur pengunduhan karya musik. Negara-negara itu sudah berhasil membentuk masyarakat untuk siap dengan kultur digital. Masyarakat sudah mempunyai kesadaran bahwa mengunduh secara ilegal adalah kejahatan. Orang yang ketahuan tiga kali melakukan pengunduhan ilegal akan terkena hukuman.

Selama ini yang dilakukan pemerintah adalah menutup lamanlaman yang menyediakan konten ilegal. Menurut Katon, cara itu kurang efektif karena begitu satu laman ditutup, akan tumbuh laman lainnya.

Menyiapkan masyarakat
Era digital mengubah segalanya, termasuk Madonna. KLa memberi contoh Madonna sebagai salah satu artis besar yang sudah siap dengan era digital. Madonna sebagai artis terlindungi oleh pemerintah dan masyarakat dengan undang-undang.

"Mereka sudah paham bahwa dunia sudah berubah sehingga industri siap dengan hal itu. Itu karena pemerintahnya mengawali dan mengarahkan masyarakatnya supaya siap dengan dunia digital," kata Katon.

Terkait bisnis musik di era digital, KLa melihat tampaknya Indonesia saat ini belum siap. Salah satu penyebabnya antara lain masih adanya sikap selama ada pilihan gratis orang cenderung memilih barang gratis. Yang dimaksud gratis itu termasuk barang yang didapat atau diunduh secara ilegal.

KLa berpandangan, dalam masyarakat Indonesia sebenarnya sudah ada pemahaman bahwa mengambil hak yang bukan miliknya itu namanya mencuri. Karena itu, orang tidak langsung mengambil milik orang lain berupa barang fisik. "Namun, di dunia digital orang belum paham (soal pengambilan)," kata Adi.

KLa yakin, budaya masyarakat bisa dibentuk. KLa merujuk Singapura yang berhasil membentuk warganya untuk tertib hukum, termasuk sadar untuk tidak mengunduh lagu secara tidak resmi. Ia berharap pemerintah berperan dalam menciptakan regulasi yang melindungi karya seniman agar tidak diunduh secara ilegal.

Grup Band Indonesia yang Disangka Berasal Dari Malaysia

Sobat LirikRaja, beberapa waktu yang lalu saya pernah memposting artikel mengenai penyanyi Indonesia yang sukses di Malaysia. Nah, pada kesempatan ini saya akan mengulas mengenai grup band / grup musik asli Indonesia yang disangka grup band asal Malaysia. Siapa sajakah mereka? Tentunya nanti akan saya ulas satu per-satu. Di era 90an, marak grup band maupun penyanyi yang beraliran slow rock, baik yang berasal dari indonesia ataupun penyanyi / band yang berasal dari Malayasia (namun dari Indonesia yang terbanyak adalah penyanyi solo beraliran slow rock, bukan band). Mungkin hal ini yang membuat orang bingung mana musisi yang asli dari Indonesia dengan musisi pendatang dari Malaysia, dikarenakan kesamaan genre musik yaitu musik slow rock khas melayu yang mendayu-dayu. Kerancuan inilah yang ingin saya jelaskan pada topik bahasan kali ini. Oke langsung saja kita bahas mereka satu-satu.


1. Fenomena

Masih ingatkah anda dengan lagu berjudul "Tiada Yang Lain" yang dibawakan oleh grup musik Fenomena pada medio 1997, yang sempat nge-hits di radio-radio swasta nasional? Banyak orang mengira bahwa grup band ini berasal dari Malaysia, padahal mereka asli berasal dari Jakarta Utara, Indonesia bro..! Lagu "Tiada Yang Lain" enak untuk didengarkan, memikat hati, dengan nuansa Melayu yang ringan. Lagu ini pula digunakan sebagai judul album mereka dibawah naungan Blackboard, dimana peredarannya tak hanya dipasarkan di dalam negeri, namun juga hingga ke Malaysia, Singapore, bahkan sampai Brunei Darussalam dan Hongkong. Lihat cuplikan video klip Fenomena "Tiada Yang Lain" pada tautan dibawah ini:

2. Gan Rose

Masih ingat dengan lirik lagu yang bunyinya kira-kira begini:


Siapa dia, ingin ku mengenalnya
Berkali jumpa ku tyerpesona 
Sungguh ku telah tergoda...)

Reff:

Masih ingatkah sayang waktu kita bedua

Kubelai, kau peluk diriku dengan sepenuh hatimu
Masih ingatkah sayang janji yang kau ucapkan
Rasa cinta yang indah membuat diriku terlena...)


Itulah cuplikan dari lirik lagu Gan Rose bertajuk "Siapa Dia" yang sempat populer di tahun 1999 di TV maupun radio nasional. Lagu ini terdapat pada album "Sandiwara Biru" terbitan Akurama Records, sering nongol di acara musik Album Minggu TVRI. Dengan gaya rambut gondrong dan pakaian khas rocker jadul di video klip mereka. Siapa yang nyana, kalau lagu yang berirama Melayu ini ternyata dinyanyikan oleh grup band yang berasal dari Indonesia.

3. Asahan

Asahan adalah grup musik slow rock yang sempat populer di tahun 2000 dengan lagu andalannya "Cinta Tasikmalaya", sebuah lagu milik musisi Malaysia, Olan ("Cinta Bandar Tasik Selatan"), yang diaransemen ulang dan dibawakan oleh Asahan. Kira-kira begini liriknya:

"Tiada apa yang dapat kurasakan
Selain dari cintaku padamu
Tiada lafaz sendu yang terindah
Yang dapat kugambarkan kepadamu...)"


Penggalan lirik lagu diatas adalah lagu yang dibawakan Asahan, berjudul "Cinta Tasikmalaya". Banyak orang menyangka Asahan adalah grup band asal Malaysia, namun kenyataanya, sesuai dengan namanya, mereka berasal dari kabupaten Asahan, Sumatera Utara coy...!

Itulah beberapa grup musik asli Indonesia yang disangka berasal dari Malaysia.

Penyanyi Indonesia Yang Meninggal di Usia Muda

Menjadi soerang penyanyi merupakan sebuah pencapaian besar yang diinginkan banyak orang. Popularitas di puncak kejayaan karir seakan menjadi tonggak bersejarah bagi seorang penyanyi. Namun siapa yang nyana kalau hela nafas manusia berhenti sudah, segala hal yang pernah digapai pun lenyap. Demikian juga dengan hidup seorang penyanyi, kejayaan, popularitas dan prestige pun sirna. Berikut adalah daftar nama penyanyi Indonesia yang meninggal di usia yang relatif masih muda.

1. Nike Ardilla
Almarhumah Nike ArdillaUmur manusia tidak ada yang bisa mengira, masih muda, karir sedang ada di masa emasnya serta bertalenta & cantik. Yupz, dialah sang lady rocker legendaris Indonesia, Nike Ardilla, gadis yang lahir pada 27 desember 1975 di kota kembang. Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan namanya, Nike meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang hingga kini masih menyimpan misteri dibalik kasus kecelakaan tersebut (baca disini). Semasa hidupnya Nike dikenal sebagai gadis yang ramah, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan multi-talenta. Tak lama setelah kematianya nama Nike Ardilla justru menjulang. Publik masih terus membicarakan Nike Ardilla. Majalah Asia Week menafsirkan Nike dalam sebuah kalimat satir “In Dead She Soared” atau “Dalam Kematian Dia Bersinar”. Setiap tahunnya ribuan penggemar yang tergabung dalam Nike Ardilla Fansclub melakukan ritual khusus pada tanggal 19 Maret dan 27 Desember yaitu berziarah ke makam dan mengadakan acara mengenang Nike seperti memutarkan film-film Nike dan menyanyikan lagu-lagu Nike di Bandung, tempat kelahiran dan tempat berpulangnya Nike. Sebuah museum juga didirikan di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung.

2. Poppy Mercury
Tidak berselang lama setelah kematian Nike Ardilla, Kota Kembang kembali menangis karena kehilangan lagi satu penyanyi berbakat, yakni Poppy Mercury (simak profilnya disini). Penyanyi yang bernama asli Poppy Yusfidawati ini menigal dunia di usia yang masih relatif muda, tepatnya pada tanggal 28 agustus 1995 karena menderita sakit komplikasi maagh, bronkhitis dan rematik di RS Hasan Sadikin, Bandung. Poppy telah menorehkan banyak prestasi di dunia musik Indonesia dengan lagu-lagunya yang merdu. Lagu yang pernah hits dari Poppy antara lain 'Antara Jakarta & Penang', 'Terlambat Sudah', 'Surat Undangan' dan 'Hati Siapa Tak Luka'. Karirnya tak hanya sukses di dalam negeri semata, namun ia juga berhasil meraih ketenaran di negeri tetangga, Malaysia, Singapore dan Brunei. Tak seperti Nike Ardilla yang memiliki fans fanatik yang loyal mengadakan acara guna mengenang kepergian bitang pujaannya itu, namun rupanya masyarakat seolah melupakan begitu saja memori Poppy Mercury setelah kematian Poppy. Ironis memang, namun itulah kenyataannya.

3. Richie Ricardo
Penyanyi Richie RicardoRichie Ricardo, aktor yang juga penyanyi tampan yang lahir pada tanggal 2 Mei 1960 ini meninggal pada saat usianya masih 32 tahun pada bulan Desember 1993. Ia termasuk sebagai selebritis yang bisa dibilang berhasil di dua bidang sekaligus. Dalam film-filmnya ia selalu memainkan peran stereotip yaitu sebagai cowok lugu yang akhirnya 'dikerjain' oleh cewek-cewek disekitarnya. Dalam dunia musik, Richie sempat melejit lewat album 'Oh Nona Manis', 'Hujan & Cinta' dan 'Cuma Dia'. Tetapi sayang, pada masa keemasannya ia meninggal dunia karena penyakit Kanker Otak. Didalam filmnya ia sempat menjadi peran utama dalam film "Bercinta", "Permainan Cinta", "Gadis Telephon", "Rambut Keriting" dan "Ranjang Setan".

4. Andy Liany
Penyanyi Rock Andy LianyEra 90'an memang banyak sekali musisi rock tanah air, produktivitas mereka dalam menghasilkan karya musik bermutu tak dapat kita pungkiri. Salah satunya adalah Andy Liany, rocker kelahiran Tanjungpinang ini menorehkan memori manis bagi penggemarnya. Ia meninggal di tahun 1995 dalam sebuah kecelakaan mobil disaat karirnya sedang mengembang. Lagu-lagunya memiliki karakter yang khas dan takkan terlupakan dihati insan musik Indonesia. Ada beberapa lagu yang menjadi hits andalannya, sebut saja seperti lagu 'Sanggupkah', 'Antara Kita', 'Ingin Rasanya' dan masih banyak lagi dech. 

5. Abiem Ngesti
Penyanyi Abiem Ngesti
Abiem Ngesti, belia pelantun lagu ‘Pangeran Dangdut’ (yang sempat hits di tahun 1992) merupakan satu-satunya penyanyi anak-anak yang pada saat itu ‘terus terang’ meniti kariernya lewat jalur dangdut, dan sempat ngetop sebagai penyanyi dangdut remaja dengan album album selanjutnya, antara lain ‘Kugenggam Dunia’ dan ‘Dahsyat’ (1995). Sayang sekali obsesinya untuk menjadi Raja Dangdut di masa depan kala itu tidak kesampaian, sebuah kecelakaan merenggut nyawanya di tahun 1995, menyusul beberapa selebriti lain yang mati muda di tahun itu juga (Nike Ardilla, Ryan Hidayat, Andy Liani, Poppy Mercury).

6. Alda Risma
Alda Risma Elfariani atau lebih populer dengan nama Alda Risma adalah seorang penyanyi sekaligus aktris Indonesia. Wanita bertinggi badan 160 cm ini sempat populer populer melalui lagu 'Aku Tak Biasa' dan 'Patah Jadi Dua' sekitar tahun 2000 awal. Ia pernah pula berkolaborasi dengan Boy Band ”Code Red”. Artis kelahiran 23 November 1982 ini meninggal pada saat usianya masih 24 tahun pada Tanggal 12 Desember 2006. Alda ditemukan meninggal disebuah kamar hotel, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan bekas suntikan, diduga Alda meninggal karena overdosis. Namun menurut analisis selanjutnya, kematian Alda disebut sebagai pembunuhan yang dilakukan oleh Ferry Surya Prakasa yang adalah kakak ipar pemain sinetron Ferry Salim.

Selain dari keenam penyanyi di atas, sebenarnya ada lagi satu penyanyi indonesia yang meninggal di usia muda, dia adalah penyanyi dangdut Iceu Wong yang populer berkat lagu andalan "Pacar Lima Langkah". Iceu Wong lahir di bandung dan meninggal dunia pada usia 30 tahun, yaitu pada tanggal 22 juli 2015 silam akibat penyakit kanker payudara yang diidapnya.
Back To Top